News :
twitter

Kepakan yang Menggelegar dari Rangkong Sulawesi

Monday, May 26th, 2008

Kepakan yang Menggelegar

Rangkong sulawesi atau Aceros cassidix adalah salah burung rangkong terbesar diantara 54 jenis rangkong yang lain di daerah tropis Asia dan Afrika. Burung ini memiliki bobot tubuh sekitar 2.5 kg dengan rentang sayap mencapai 1 m. Kepakan sayapnya ketika akan terbang seperti suara helikopter yang lepas landas, dan ketika gliding atau mendarat menimbulkan suara gemuruh yang khas seperti pesawat tempur. Ketika terbang bunyi sayapnya dapat terdengar sampai 300 meter.

Meskipun statusnya adalah satwa yang dilindungi, masih banyak perburuan yang dilakukan, baik untuk dimakan ataupun asesoris. Kepala dan bulu rangkong banyak digunakan sebagai asesoris tarian khas Sulawesi Utara. Sudah selayaknya sedari sekarang kita menghentikan perburuan ini.


Rangkong Tercantik

Rangkong sulawesi Aceros cassidix memiliki tubuh dan sayapnya berwarna hitam, ekor putih, memiliki sebuah tanduk yang besar diatas paruh, warna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruh berwarna kuning, memiliki kantung biru pada tenggorokkan dengan sebuah garis gelap melintanginya. Leher sang jantan berwarna kuning-jingga, sedangkan betina lehernya tetap berwarna hitam. Warna leher dari anak rangkong yang baru keluar dari sarangnya, berwarna kekuningan seperti bapaknya. Leher itu akan berubah menjadi hitam atau semakin kuning-jingga tergantung jenis kelaminnya.

Banyaknya perburuan untuk konsumsi atau aksesori bisa mengganggu jumlah polulasinya di alam. Sedari sekarang kita harus mendukung upaya pelestarian satwa endemik ini.

Rangkong Sulawesi Penganut Paham Monogami

Rangkong sulawesi atau Aceros cassidix berpasangan hanya dengan satu pasangan seumur hidupnya. Pasangan rangkong memiliki sarang sendiri-sendiri bersama anaknya. Selama masa bereproduksi, sang jantan dengan setia bolak-balik ke sarang memberi ransum makanan untuk betina yang setia di dalam lubang. Pada masa tidak bereproduksi, mereka selalu berpasangan walau seringkali bergerombol dengan teman-temannya di pohon.

Kedua orang tuanya selalu mendampingi setelah anaknya keluar dari sarang, belajar terbang, dan makan di pohon buah. Memasuki masa kawin berikutnya, sang anak sudah tak lagi berada di dekat orang tuanya

Penjelajah Ulung dan Pemencar Biji

Saat tidak bereproduksi, rangkong dapat berkelana mencari makan rata-rata 10,5 km per hari, bahkan ada yang mencapai jarak 30 km. Daerah jelajahnya juga bervariasi antara 39,8 sampai 55,8 km. Saat itu pula, rangkong ’melaksanakan’ tugasnya sebagai penyebar benih.

Biji dari buah yang dimakan rangkong tidak hancur. Hal itu memungkinkan biji dapat disebarkan cukup jauh dari induknya. Jika rangkong sudah mulai mengepakan sayapnya, lalu meluncur menyusuri hutan, maka biji dari buah yang dimakannya akan disebarkan cukup jauh dari induknya. Sehingga regenerasi dan reforestasi hutan dapat berjalan secara alamiah. So, tentunya sudah kewajiban kita untuk menjaga kelestariaannya dan fungsinya di alam.

sumber : profauna & hornbill.jpg

Blogged with the Flock Browser

Tags:

Popularity: 6% [?]


No Responses to “Kepakan yang Menggelegar dari Rangkong Sulawesi”

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes

Limosin Creative

5 visitors online now
5 guests, 0 members
Max visitors today: 5 at 09:04 am WIT
This month: 10 at 09-06-2010 01:26 pm WIT
This year: 74 at 01-22-2010 03:29 am WIT
All time: 74 at 01-22-2010 03:29 am WIT